27 Januari 2009

Alphabetical for Success



::: ALPHABETICAL FOR SUCCESS:::


A : ACCEPT

Terimalah diri anda sebagaimana adanya.

B : BELIEVE

Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup

C : CARE

Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup

D : DIRECT

Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri

E : EARN

Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik

F : FACE

Hadapi masalah dengan benar dan yakin


G : GO

Berangkatlah dari kebenaran

H : HOMEWORK

Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi

I : IGNORE

Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan

J : JEALOUSLY

Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri

K : KEEP

Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal

L : LEARN

Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya


M : MIND

Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain

N : NEVER

Jangan terlibat skandal, obat terlarang, dan alkohol

O : OBSERVE

Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajarlah dari orang lain

P : PATIENCE

Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha

Q : QUESTION

Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu


R : RESPECT

Hargai diri sendiri dan juga orang lain

S : SELF CONFIDENCE, SELF ESTEEM, SELF RESPECT

Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri membebaskan kita dari saat-saat tegang

T : TAKE

Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda

U : UNDERSTAND

Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan anda


V : VALUE

Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik

W : WORK

Bekerja dengan giat, jangan lupa berdo'a

X : X'TRA

Usaha lebih keras membawa keberhasilan

Y : YOU

Anda dapat membuat suatu yang berbeda

Z : ZERO

Usaha nol membawa hasil nol pula


:::Usaha nol membawa hasil nol pula:::

22 Januari 2009

Kisah 3 Musafir


Seorang musafir muda tersesat di padang pasir, berhari-hari tidak makan dan minum. Sedemikian kehausan sehingga berjalan terseok-seok. Sepatu dan pakaiannya sudah rusak, rambutnya kusut masai dan berantakan tertiup angin.

Hampir putus asa, akhirnya bertemu dengan musafir perempuan yang naik kuda dan membawa dua kantung besar air. Dimintanya air barang beberapa teguk pada perempuan itu, namun perempuan itu tak mau memberikan, malah ujarnya “Aku sendiri perlu air ini untuk perjalanan jauhku, jika kau mau kuberikan kamu topi,” seraya mengambil topi lain yang ada di tasnya.

Musafir muda ini menolak pemberian topi, dan bersikeras meminta air. Demikian pula perempuan ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi topi. Akhirnya musafir muda ini marah dan pergi.

Dua ratus meter kemudian ia berjalan terseok-seok, akhirnya bertemu dengan musafir laki-laki tua yang naik keledai dengan membawa dua kantung besar air juga. Dimintanya air barang beberapa teguk pada laki-laki tua itu, namun laki-laki tua itu tak mau memberikan, seraya berujar, “Aku sendiri juga perlu air ini untuk perjalanan yang masih jauh, jika kau mau kuberikan kamu sepatu,” katanya sambil mengambil sepatu lain yang ada di tasnya. Musafir muda ini menolak pemberian sepatu itu, dan bersikeras meminta air. Namun laki-laki tua ini tidak bersedia memberi air dan hanya mau memberi topi. Akhirnya musafir muda ini
tambah marah dan pergi.

Selang lima ratus meter dari situ, ia tiba di sebuah oasis besar yang airnya sangat jernih dan teduh. Dengan bergegas ia menuju tepi air untuk mengambil minum. Namun tiba-tiba telah berdiri di depannya dua orang tentara kerajaan yang menjaga oasis itu, sambil berkata

“Dilarang keras mengambil air ini, kecuali kamu memakai topi dan sepatu!”.

Apa moral cerita di atas ? Kadang kita menolak suatu pemberian/ilmu, padahal kita belum tahu di kelak kemudian hari ternyata kita butuhkan pemberian atau ilmu itu.

20 Januari 2009

Sebutir Nasi di piringmu...

Ada email yang kiranya membuat kita bisa mengambil nilai positif nya :

Pu Yao Liu Xia Yi Li Mi
"jangan sisakan sebutir nasi di piringmu...! "

Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang putera yang sangat dimanjakan. merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putera mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi remaja yang urakan, tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai orang lain. Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. karena itu, pangeran kecil ini dibenci dan dihindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.

Walau dibenci dan dijauhi, pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusianya yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasa datang bermain ke rumahnya si bocah. Suatu hari, pangeran kecil meminta si bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemaninya makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa.

Sejenak kemudian, pangeran kecil mulai melahap hidangnya yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak-enak dan mahal dicicipi. Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan yang di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan mengigit makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya. Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya.

"Hai... apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu di hadapanku? Kamu iri melihat aku makan enak? teriak pangeran kecil itu.

"Tidak, tidak ada apa-apa...," jawab si bocah. "Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?" tanya sang pangeran sengit.

"Pangeran jangan cepat marah, hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pangeran ucapkan dalam doa tadi?" tanya si bocah. "Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan ¸Ð л (Gan Xie) doa terima kasih kepada Yang Maha Kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku," jelas sang pangeran dengan bangga.

Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian, "Menurut pendapat hamba yang mulia, Rasa syukur dan terima kasih akan lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang ynag telah menyediakan semua bahan makanan dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini," kata si bocah. "Lihatlah sisa makanan yang berceceran di piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?"

"Apa maksud kata-katamu itu? Aku kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku.. ." kilah sang pangeran kecil. Si sahabat tiba-tiba menarik tangan sang pangeran dan mengajaknya menuju ke dapur istana. Ia bawa sang pangeran menyaksikan bagaimana juru masak istana dan para pekerja dapur begitu sibuk menyiapkan makanan serta membuat berbagai macam masakan.

Saat mereka berkeliling, dari pintu belakang istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa. "Hai...Paman. .. Terima kasih atas persembahanmu. Bagaimana panen padi kali ini?" tanya sang pangeran berlagak bijak.

"Panen kali ini buruk sekali. Tuan" jawab si petani ketakutan. "Sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia. Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini. Hanya itu yang kami punya. Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan pada anak istri kami," ujarnya sambil menghela napas panjang.

Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tersentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan. Sementara dirinya malah menyia-yiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga. Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu, tingkah laku pangeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri,


Pembaca yang budiman.

Sejak kecil kita telah dididik untuk selalu berdoa dan mengucap syukur atas semua berkat yang diberikan Tuhan kepada kita. Mengucap syukur bukan sekedar berdoa, bukan pula sekedar melaksanakan formalitas ritual beragama. Tetapi lebih dari itu, rasa syukur kita harus disertai dengan sikap menghargai dan menghormati orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum butiran nasi yang kita makan sehari-hari mengenyangkan perut kita, betapa banyak kerja dan kegiatan yang mendahuluinya. Bila kita bisa menghargai arti sebutir nasi serta orang-orang yang menghasilkannya, maka dasar pengertian dan kebijaksanaan itu akan melahirkan sikap mental positif dalam kehidupan kita.

Doa dan syukur harus didasarkan pada perbuatan nyata dan pengertian yang benar mengenai apa yang kita lakukan. Jika setiap doa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita, disertai dengan pengertian kebijakan untuk menghargai segala usaha dan jerih payah orang lain, serta tidak menyia-yiakan berkah yang sedang kita nikmati, niscaya, mereka kelak akan tumbuh menjadi orang-orang yang luhur budi pekertinya.

Sekali lagi ingat, ketika kita makan : ²» ÒªÁôÏÂÒ»Á£Ã× (Pu Yao Liu Xia Yi Li Mi) "jangan sisakan sebutir nasi di piringmu...!


Succes Is My Right